Presiden Obama menyatakan kejadian itu "tidak disengaja" dan menjanjikan penyelidikan penuh, kata pernyataan dari kantor Presiden Afghanistan.
"Saya ingin menyatakan penyesalan mendalam atas kejadian itu," kata Presiden Obama dalam surat disampaikan kepada Presiden Karzai oleh Duta Besar AS Ryan Crocker.
"Saya sampaikan kepada Anda dan rakyat Afghanistan permintaan tulus maaf saya," kata Presiden Obama.
"Kesalahan itu tidak disengaja. Saya meyakinkan Anda bahwa kami akan mengambil langkah sesuai untuk menghindari kejadian itu terulang, untuk menangani yang bertanggung jawab," kata surat tersebut.
Pembakaran Qur`an di pangkalan udara tentara AS di Bagram, utara Kabul, itu memicu tiga hari unjukrasa sengit benci AS di Afghanistan, dengan sedikit-dikitnya 12 pengunjukrasa tewas.
Gerilyawan Taliban, yang diperangi Amerika Serrikat, mendesak pengunjukrasa Afghanistan menyerang dan membunuh pasukan asing untuk membalas pembakaran Qur`an di pangkalan udara kelolaan AS Bagram di utara Kabul.
"Anda harus berani melancarkan serangan terhadap pangkalan pasukan penyerbu, iringan tentara mereka, membunuh mereka, menangkap mereka, mengalahkan mereka dan mengajar mereka untuk tidak lagi berani menghina kitab suci al-qur`an," kata pernyataan Taliban.
Gerakan Islam itu memimpin perlawanan 10 tahun setelah digulingkan dalam serbuan pimpinan AS pada 2001.
NATO memiliki sekitar 130.000 tentara, terutama asal AS, yang mendukung pemerintahan Presiden Karzai.
Afghanistan adalah negara sangat Islami, tempat penghinaan terhadap agama itu sering memicu unjukrasa keras dan banyak warga Afghanistan marah sesudah menemukan Qur`an hangus di Bagram.
Panglima AS di Afghanistan, Jenderal John Allen, minta maaf dan memerintahkan penyelidikan atas laporan bahwa pasukan secara tak layak membuang sejumlah besar sarana agama Islam, termasuk al-Qu`ran itu.
"Saya menyampaikan permintaan maaf tulus atas pelanggaran itu, kepada Presiden Afghanistan, pemerintah Republik Islam Afghanistan, dan yang terpenting, kepada yang mulia rakyat Afghanistan," katanya.
Pernyataan langsung Allen itu, diduga untuk membatasi kerusakan setelah kejadian serupa menghasilkan kekerasan dan serangan terhadap orang asing, ditayangkan berulang kali di televisi Afghanistan.
Tuduhan bahwa pasukan NATO di pangkalan itu membakar banyak kitab suci umat Islam tersebut pertama kali dilaporkan oleh seorang pejabat tinggi pemerintah.
Satu tentara Afghanistan pada Kamis (23/2) menembakan mati dua tentara NATO, kata tentara, saat unjukrasa sengit benci AS atas pembakaran Qur`an melanda negara itu.
"Seseorang mengenakan seragam Tentara Kebangsaan Afghanistan menembakkan senjatanya ke anggota Pasukan Bantuan Keamanan Asing (ISAF) di Afghanistan timur pada hari ini, menewaskan dua anggota pasukan itu," kata ISAF pimpinan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO.
ISAF tidak menyebut nama dan kebangsaan korban itu serta tak merinci kejadian tersebut, tapi pengumuman kemudian menyatakan kedua korban itu adalah tentara AS.
Unjukrasa sengit terhadap pembakaran Qur`an di pangkalan tentara kelolaan AS itu berlangsung untuk hari ketiga berturut-turut di seluruh negara terkoyak perang tersebut. [EL, Ant]



